CIKOLOTOK, AKANKAH SEPERTI BANTARGEBANG?

Purwakarta – Sampah, kini menjadi masalah serius di Indonesia. Jakarta saja membutuhkan tempat untuk membuang sampah, dan akhirnya Bekasi yang menjadi korban. Ribuan sampah tertumpuk di Bantargebang dan mayoritas buangan Jakarta. Penyakit sampah ini menular sampai ke Purwakarta, sebuah Kabupaten yang jaraknya hanya 94 kilometer dari Jakarta.

Nyaris sama dengan permasalahan yang dihadapi Jakarta, lahan yang disediakan Pemerintah Kabupaten Purwakarta untuk tempat pembuangan akhir sampah seluas 10 hektar yang berada di Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan atau yang biasa disebut TPA Cikolotok, makin hari makin kewalahan untuk menerima limbah sampah yang dihasilkan masyarakat Purwakarta. TPA Cikolotok, kini mulai menjulang menjadi pegunungan sampah.

Truck sampah menanjak unuk masuk ke TPA Cikolotok Purwakarta (FAMZ Media/Foto:famz)

Bagaimana tidak?. Tiap harinya 200 ton lebih sampah dibuang di TPA Cikolotok. Lebih miris lagi, pengelola TPA Cikolotok semakin tidak berdaya untuk meratakan sampah saat dua dari tiga ekskavator sempat rusak.

Ade Iskandar – Kasi Penanganan Sampah TPA Cikolotok mengkhawatirkan ratusan ton sampah tersebut akan berdampak pada kesehatan warga dan kebersihan lingkungan.

“Memang makin kesini jumlah sampah makin bertambah dan dibarengi masalah lahan yang terbatas untuk pembuangan. Belum lagi sampah makin numpuk, lingkungan sama warga juga bisa kena cemaran” kata Ade, Selasa (10/09/2019) siang.

Ade Iskandar – Kasi Penanganan Sampah TPA Cikolotok. (FAMZ Media/Foto:famz)

Kekhawatiran itupun menjadi kenyataan, setelah beberapa warga yang tinggal dalam radius belasan meter dari TPA Cikolotok mulai mengeluhkan sesak nafas serta kondisi air sumur yang biasa dipakai untuk minum mulai tercemar sampah dan berbau busuk.

Asep, salah seorang warga mengaku terpaksa membeli air dalam kemasan untuk minum. Sementara untuk mandi, masih menggunakan air sumur yang berbau busuk tersebut.

“Mau gimana lagi, sumurnya bau nggak enak ya akhirnya minum air galonan. Buat mandi ya masih pakai air sumur”, tutur Asep.

Penderitaan masyarakat semakin lengkap dengan datangnya musim hujan, yang membuat aroma sampah semakin busuk ditambah air rembesan sampah semakin mencemari sumur warga.

Karena kesal, warga sudah melaporkan hal ini ke pengelola TPA Cikolotok. Namun usaha tersebut tidak membawa hasil. Warga yang kesal karena sebagian sampah menutupi saluran air, mengancam keras.

“Pernah di akhir tahun 2017 dan pas hujan gede, alat berat cuma fungsi satu dan duanya mogok. Akibatnya sampah menggunung dan menutupi saluran air pembuangan. Lalu, air hujan campur sampah mengalir ke pemukiman. Besuknya, warga protes keras”, cerita Ade.

Sementara itu selain berdampak pada kesehatan lingkungan, masalah sampah ini juga menimbulkan permasalahan sosial. Betapa tidak?. Anak-anak yang tinggal di sekitar TPA Cikolotok ramai-ramai meninggalkan bangku sekolah dan memilih menjadi pemulung.

Aktivitas di TPA Cikolotok Purwakarta (FAMZ Media/Foto:famz)

Bagi mereka, masa depan ada pada tumpukan sampah yang menggunung didepan mata.

Amad seorang bocah berusia 6 tahun mengatakan lebih enak menjadi pemulung karena bisa mendapat uang dibandingkan sekolah yang harus mengeluarkan uang.

Pernyataan si Amad ini bukan tanpa alasan. Sekolah yang hanya sekedar duduk dianggap hanya buang-buang waktu karena tidak menghasilkan uang. Sementara jika ia menjadi pemulung dan mencari sampah di TPA Cikolotok, dia justru merasa berjasa pada keluarganya.

Beruntung keyakinan Amad ini tidak berlarut-larut. Munculnya Ahsan Sholehudin yang tergabung dalam komunitas peduli anak Lentera Mimpi, segera menyadarkan serta membawa kembali pola pikir anak-anak sekitar TPA Cikolotok untuk kembali mau belajar, meskipun bukan dalam pendidikan formal.

Ahsan Sholehudin – Ketua Komunitas Lentera Mimpi Purwakarta (FAMZ Media/Foto:famz)

Ahsan Sholehudin bersama teman-temannya mengajak anak-anak tersebut untuk mau belajar kembali.

“Prihatin lihat anak-anak usia dini memilih jadi pemulung, akhirnya kami berkomitmen ingin mentransfer ilmu yang didapat dari bangku sekolah dan kuliah ke mereka supaya lebih melek pendidikan.” ujar Ahsan.

Tanpa meminta biaya sepeserpun, Ahsan Sholehudin mengajak anak-anak tersebut untuk belajar. Meski awalnya sempat kesulitan, namun dengan sentuhan kesabaran, anak-anak Cikolotok itupun berhasil diajak untuk kembali belajar.

Komunitas Lentera Mimpi sedang mengajar di PAUD Yayasan Mansya’ul Ihsan. (FAMZ Media/Foto:famz)

Hingga saat ini, belum ada solusi terkait makin membumbungnya sampah di TPA Cikolotok. Meskipun sempat muncul wacana ditengah keputus-asaan mencari solusi pengelolaan sampah yang makin hari makin bertambah, yakni dengan menjadikan TPA Cikolotok sebagai tempat wisata edukasi.

Suasana di TPA Cikolotok Purwakarta. (FAMZ Media/Foto:famz)

Meskipun jauh panggang dari api, namun upaya dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta itu menarik untuk kita tunggu. Akan seperti apa jika pegunungan sampah dijadikan wisata edukasi?. Mungkin bisa saja tempat edukasi pertama di dunia di kawasan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah. (can/rn/fath)

error: