DAERAH SELATAN JAWA RAWAN GEMPA, PANGANDARAN DAPAT PERHATIAN

Pangandaran – Sejumlah petugas tengah sibuk dengan beberapa peralatan serba canggih di lapangan Kecamatan Kalipucang, Kabupaten Pangandaran. Saat dihampiri ternyata mereka adalah peneliti dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau disingkat BMKG.

Penelitian tersebut dilakukan BMKG di sejumlah daerah rawan gempa yang ada di Indonesia dan beberapa daerah rawan gempa di kabupaten/kota di Provinsi Jawa Barat, termasuk di Kabupaten Pangandaran.

Peneliti Pusat Penelitian BMKG Pusat, Drajat Ngadmanto mengatakan, bahwa pihaknya sedang membuat peta mikro zonasi bahaya gempa bumi.

“Jadi di seluruh wilayah di Kab. Pangandaran ini kita akan petakan, daerah mana saja yang rawan guncangan ketika sedang terjadi gempa bumi,” ungkap Drajat, Minggu, 31 Maret 2019.

Biasanya, menurut Drajat, ditandai dengan daerah-daerah yang tanahnya lunak, dan nanti akan dipetakan semua untuk mengetahui daerah mana saja yang tanahnya lunak, biasanya terkolerasi dengan tingkat bahaya yang lebih tinggi.

Untuk alat pengukuran tanah, lanjut Drajat, digunakan sebanyak tiga alat. Alat pertama mikrotremor (MIC) dipasang di 34 titik yang tersebar di wilayah Kab. Pangandaran untuk mencari jenis tanah baik tanah keras, lunak dan sedang, lalu alat seismograf fortable untuk mengetahui dominan tanah di sekitar 260 titik, sedangkan untuk alat yang ketiga akan dilakukan pada sekitar bulan Agustus depan, namamya mikrotremor array.

“Fungsinya untuk mengetahui batuan bentrok. Batuan kerasnya tuh ada dimana lokasinya dan itu akan lebih dalam lagi dari atas permukaan tanah, mungkin nanti akan dipasang di 30 sampai 40 titik,” ujarnya kepada wartawan Kabar Priangan, Agus Kusnadi.

Untuk mengetahui hasil pemetaan sendiri, menurut Drajat, tergantung dari pelaksanaan survei, melalui pengambilan data lalu diolah di kantor penelitian di BMKG Jakarta untuk mengetahui seperti apa dominan dan jenis tanah serta bentrokan batu kedalaman lapisan tanah di wilayah Kab. Pangandaran.

“Misalnya pada gempa 7 SR, respons tanah pasti berbeda-beda, kalau tanahnya lunak biasanya akan memperbesar gelombang sehingga goncangan akan semakin keras, berbeda dengan jenis tanah keras,” paparnya.

Drajat menyampaikan, bahwa pelaksanaan pemetaan tanah ini sudah ia lakukan di beberapa daerah di Indonesia seperti di Padang Sumatera Barat, Bantul dan Kulon Progo, Yogyakarta, Sukabumi, Tasikmalaya, Cilacap Jawa Tengah, Garut dan sekarang di Kab. Pangandaran. Drajat juga mengatakan, bahwa daerah selatan pulau Jawa merupakan daerah rawan gempa. (pr/dn)

error: