DENDENG SINGKONG JADI PESONA BARU PURWAKARTA

Purwakarta – Kata siapa inspirasi sulit ditemukan?. Padahal, keberadaannya bisa muncul dari mana saja. Di jalan bisnis yang tepat, inspirasi dapat menghasilkan pemasukan menggiurkan.

Inspirasi Chriftylia Firjayanti (32) datang dari belakang rumahnya di Desa Kiarapedes, Purwakarta, Jawa Barat. Ketika itu, ia melihat daun singkong yang melimpah dan tidak termanfaatkan di kebun.

”Biasanya cuma dipakai untuk sayur dan lalapan. Namun, lebih banyak daun yang dibiarkan layu dan mengering. Melihatnya tidak dimanfaatkan, kan, sayang sekali,” ujarnya.

Berawal dari melimpahnya bahan baku itu, ia coba bereksperimen mengolah daun singkong menjadi dendeng daun singkong. Pada umumnya, dendeng terbuat dari bahan hewani, antara lain daging dan paru sapi. Ia pun menerapkan bumbu yang sama pada produknya. Upaya ini sekaligus mewarnai diversifikasi pangan yang ada di Purwakarta. Purwakarta terkenal dengan produk olahan peuyeum atau tape singkong bendul.

Berdasarkan Data Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta tahun 2018, terdapat luas tanam singkong sebanyak 1.390 hektar. Adapun daerah dengan luas tanam terbanyak adalah Sukatani (seluas 551 hektar), Wanayasa (178 hektar), Plered (131 hektar), Kiarapedes (73 hektar), dan Cibatu (66 hektar), seperti dilansir Kompas.

Suaminya yang keturunan Padang menjadi pencicip pertama setiap hasil eksperimennya. Rasa dendeng buatannya dibilang sang suami seperti rasa dendeng paru yang biasa disantap. Berkat pujian itu, ia pun memberanikan diri untuk memasarkan produknya dari pintu ke pintu.

Semula ia menitipkan produknya di beberapa kantin sejumlah kantor dinas di Purwakarta. Barulah pada 2017, ia memantapkan tekad mendaftarkan produknya dengan merek ”Incu Abah”, dalam bahasa Sunda artinya cucu bapak. Permohonan sertifikat produksi pangan industri rumah tangga atau PIRT disetujui dalam waktu seminggu.

Ditemui di rumahnya, pertengahan September, Chriftylia sibuk mengemas pesanan untuk persiapan pameran gelar usaha di Solo, Jawa Tengah. Keseriusannya mengembangkan inovasi itu tidak main-main. Ia menerapkan sejumlah strategi agar penjualannya kian meningkat, yakni memasarkannya secara daring.

Tahapan pembuatan dari awal hingga menjadi produk akhir setidaknya membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Hal itu karena seluruh pengolahan masih dilakukan manual dengan tiga tenaga kerja lepas. Kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan dengan saat merintis segalanya sendiri karena belum ada modal untuk membayar pekerja. (komp/fath)

error: