GEDUNG JUANG JADI PUSAT KEBUDAYAAN

CIKARANG – Pemerintah Kabupaten Bekasi berencana menjadikan Gedung Juang 45 sebagai pusat kebudayaan. Pembangunan pusat kebudayaan ini pun telah tertuang dalam rencana pembangunan dan siap dibangun tahun depan.

“Agar bisa dibangun tentu harus ada feasibility study dan detail engeneering design, keduanya akan dialokasikan pada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah Perubahan 2019 ini. Jadi diharapkan, penataan pusat kebudayaannya tahun depan sudah bisa berjalan,” kata Pelaksana Tugas Bupati, Eka Supria Atmaha, Minggu 24 Maret 2019.

Pertengahan pekan lalu, Eka sendiri telah meninjau langsung kondisi Gedung Juang 45 yang berlokasi di Jalan Hasanudin Kecamatan Tambun Selatan. Eka menilai penempatan pusat kebudayaan di gedung bersejarah itu tepat.

“Karena dengan adanya pusat kebudayaan tentu dapat menguatkan sejarahnya itu sendiri. Fungsi Gedung Juang pun jadi lebih maksimal dengan hidupnya aktivitas kebudayaan. Jadi orang mengetahui kebudayaan Bekasi langsung dari tempat yang paling bersejarah di Kabupaten Bekasi,” ujar Eka.

Untuk diketahui Gedung Juang merupakan salah satu dari sedikit bangunan bersejarah di Kabupaten Bekasi. Gedung Juang yang diberdiri sejak 1906 beberapa kali berubah fungsi. Sempat menjadi gedung pemerintahan Belanda, kemudian dikuasai Jepang hingga berhasil direbut oleh rakyat Bekasi. Perjuangan merebut itu yang membuat gedung beraksitektur neo klasik ini dinamai Gedung Juang.

Kini Gedung Juang dikelola Pemkab Bekasi untuk dijadikan lokasi wisata meski tidak maksimal.

Pemanfaatan Gedung Juang sebenarnya menjadi wacana yang kerap digulirkan tiap tahun. Bahkan, pada 2017 lalu, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Kabupaten Bekasi menggelontorkan dana hingga Rp 9,7 miliar untuk memugar Gedung Juang. Namun, setelah dipugar, tidak ada pemanfaatan yang maksimal.

Meski demikian, Plt Eka memastikan, penempatan pusat kebudayaan akan memaksimalkan keberadaan Gedung Juang. Pasalnya, kebudayaan merupakan salah satu komitmen Pemkab pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah Kabupaten Bekasi untuk memajukan kebudayaan.

“Pusat kebudayaan telah masuk dalam Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrembang) 2020. Maka harus dapat dibangun,” ujarnya.

Museum bersejarah

Sementara itu, dari hasil Musrembang 2020, pembangunan Gedung Juang menjadi pusat kebudayaan merupakan salah satu rencana prioritas. Gedung tersebut nantinya bisa menjadi museum bersejarah. “Fungsinya  untuk menjaga kelestarian kebudayaan Kabupaten Bekasi supaya tidak punah termakan oleh zaman. Sehingga generasi perlu diberi pengetahuan terkait kebudayaan lokal dan sejarah Kabupaten Bekasi,” kata Eka.

Pada Musrembang tingkat kabupaten, Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah menerima sediktinya 9.625 usulan, mulai dar masyarakat tingkat desa hingga kecamatan. Jika dihitung, anggaran untuk merealisasikan seluruh usulan mencapai Rp 8,6 triliun.

“Kami catat seluruh usulan yang masuk. Tapi, tentu anggaran sebesar itu tidak mungkin untuk kami laksanakan seluruhnya, lantaran APBD Kabupaten Bekasi yang sangat terbatas. Oleh sebab itu, kami menentukan kegiatan mana saja yang harus masuk pada skala prioritas, dan masuk menjadi Rencana Kerja Perangkat Daerah (RKPD). Namun, saya tegaskan pembangunan infrastruktur akan yang terintegrasi untuk pelayanan publik,”ujarnya.

Pada kesempatan berbeda, Ketua Paguyuban Pemangku Seni Budaya Bekasi Damin Sada menyambut baik pemanfaatan Gedung Juang. Hanya saja, rencana tersebut harus dibarengi dengan realisasi yang tepat sasaran.

“Saya sangat setuju gedung juang direnovasi, tapi harus ada pemanfaatannya. Setelah direnovasi terus bagaimana. Sejauh ini hanya dibangun lalu dibiarkan tidak tahu dibuat apa. Setiap tahun itu sebenarnya ada perbaikan, tapi pemanfaatannya kurang. Jangan lagi seperti itu,” kata dia. (red/dn)

error: