GURU PANDAI PUISI, DIHARAPKAN BENTUK KARAKTER SISWA-SISWI

Purwakarta – Burung rajawali digambarkan sebagai sosok yang mulia dalam sajak karya WS Rendra. Penggambaran tersebut terasa lebih dramatis saat dibacakan oleh Devi Yuliana di acara “Ekspresi Puisi Pendidikan Kita”, Rabu, 26 September 2019 malam lalu.

Penampilannya di Kompleks Kantor Dinas Pendidikan Purwakarta itu, seakan menegaskan kemuliaan rajawali yang tak hilang meskipun kebebasannya dibatasi. “Sebuah sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri,” kata Devi membacakan puisi tersebut, seperti dilansir pikiran-rakyat.

Devi yang merupakan guru honorer di SMP Negeri 3 Purwakarta, tak segan mengekspresikan kegelisahannya saat membacakan puisi tersebut. Tak hanya lewat raut wajahnya, ia terkadang menirukan kepakan sayap burung tersebut seolah sedang terbang di langit.

Tak heran bila aksi panggungnya itu membuat Devi memenangkan perlombaan puisi antar pengajar dan kepala sekolah se-Kabupaten Purwakarta kali ini. Sehingga, ia pun berhak atas Piala Bupati Purwakarta dan hadiah dari Disdik setempat.

Devi mengungguli 10 finalis lainnya dalam lomba puisi pertama yang diselenggarakan Disdik Purwakarta itu, dengan nilai 757. Di tempat kedua, guru SD Negeri 1 Nagrog Pupung Setiabudi terpilih setelah mendapatkan nilai 741.

Sebelas finalis yang tampil malam itu merupakan hasil penyeleksian dewan juri dari 109 peserta dari babak sebelumnya. Kepala Disdik Purwakarta Purwanto mengatakan tujuannya menggelar acara tersebut ialah untuk mengolah rasa para guru dan kepala sekolah.

“Tujuannya sebagai pendidikan karakter. Kalau guru bisa belajar mengolah rasanya, siswa bisa belajar dari mereka. Cara mereka mengekpresikan diri lewat puisi agar meningkatkan sensitivitasnya,” ujar Purwanto saat ditemui di sela-sela acara tersebut.

Keterlibatan para tenaga pengajar diharapkan dapat memberikan contoh positif bagi para siswa di sekolah masing-masing. Terutama, dalam upaya membentuk karakter siswa yang berprestasi dalam bidang kesenian.

Tak hanya dilakukan oleh para guru dan kepala sekolah dari tingkat SD hingga SMA, pembacaan puisi juga dilakukan langsung oleh Kepala Disdik Purwakarta. Hal itu untuk menunjukkan keterlibatan setiap kalangan di bidang pendidikan di Purwakarta.

Selain itu, pembacaan puisi juga dijadikan sebagai salah satu bentuk aktualisasi gerakan literasi di sekolah. “Membuat puisi dan membacakannya itu juga bagian dari gerakan literasi. Makanya perlu difasilitasi dalam suatu acara khusus,” kata Purwanto.

Menurunnya, antusiasme peserta untuk mengikuti perlombaan kali ini cukup tinggi. Karena itu, panitia penyelenggara sengaja membatasi jumlah peserta. Karena itu, Purwanto berjanji menggelar acara serupa setiap tahun.

Ia berharap penyelenggaraan acara tersebut secara rutin dapat meningkatkan prestasi siswa dalam perlombaan membaca puisi. Menurut Purwanto, tak banyak siswa yang memenangkan perlombaan serupa meskipun ada salah seorang di antaranya yang telah meraih juara tingkat nasional.***

error: