KASUS COVID-19 DI JATIM MELONJAK, INI SEBABNYA

Surabaya – Kasus positif coronavirus (Covid-19) di Jawa Timur (Jatim) yang terkonfirmasi pada Kamis (21/5), bertambah 502 orang. Angka tertinggi dibandingkan hari-hari sebelumnya.

“Jadi, 502 pasien yang disebutkan pemerintah itu berasal sebagian besar dari ITD (Institute of Tropical Disease), laboratorium di Unair (Universitas Airlangga). Itu kapasitasnya 488 orang,” ujar Ketua Tim Kuratif Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, dr. Joni Wahyuhadi, di Grahadi, Surabaya, semalam.

Dengan demikian, akumulasi kasus positif Covid-19 Jatim mencapai 2.998. Terdiri dari 403 pasien sembuh, 241 meninggal dunia, dan sisanya masih menjalani perawatan.

Dirinya melanjutkan, kenaikan signifikan kasus tersebut bukan hasil tes pada hari sama. Namun, gabungan dari beberapa hari. Tanggal 18 Mei sebanyak 141 orang, 19 Mei sebesar 195 pasien, dan 20 Mei sejumlah 190 jiwa.

“ITD Unair sendiri menyumbang 96%. Sisanya dari laboratorium dan beberapa rumah sakit di Jatim,” bebernya.

Faktor lain lonjakan kasus, meningkatnya mobilitas penduduk. Dicontohkannya dengan jumlah penumpang tiba maupun berangkat di Bandara Internasional Juanda, Sidoarjo, sebesar 1.400-1.500 orang per harinya.

“Walaupun sudah dilakukan screeningtapi ini bisa menjadi faktor yang menaikkan status coronavirus di Jatim,” ungkap Joni. 

Ketua Tim Tracing Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim, dr. Kohar Hari Santoso, berpendapat serupa. Alasannya, beberapa penumpang pesawat merupakan kelompok perjalanan luar negeri ataupun antardaerah.

“Kami belum hitung jumlahnya persennya. Tapi, kita lihat ada semula dari 11, terus tambah 12 orang. Kemudian ada yang kelompok lima orang, tapi tambah enam orang. Tidak terlalu besar, tapi ini potensi menularkan yang lain,” urainya.

Meski demikian, penumpang pesawat bukan yang terbesar menyumbang tambahan pasien pada hari Kamis. Namun, klaster baru di sebuah rumah sakit (RS), di mana 12 dari 20 pasien Covid-19 merupakan tenaga medis. Empat orang di antaranya dokter spesialis.

“Banyak dari tenaga kesehatan ini tidak menolong (pasien Covid-19) secara langsung, tetapi dia melakukan kegiatan untuk pelayanan (kesehatan),” katanya. Kohar tidak menjelaskan lokasi klaster itu.

Penambahan kasus besar lainnya dari klaster lama, seperti pasar dan pondok pesantren di Temboro. Dirinya pun tidak memerinci berapa penambahan kasus positifnya. (can/ale)

error: