LAPAN : KEMARAU BASAH, PETANI JABAR AYO TANDUR!

Bandung – Prediksi terjadinya kemarau basah selama tahun 2020 seharusnya dapat dimanfaatkan oleh para petani di Jawa Barat untuk memulai masa tanam padi.

Hal ini dijelaskan oleh Peneliti Iklim pada Pusat Sains dan Teknologi Atmosfer (PSTA), Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), pada saat acara webinar Evaluasi PSBB dan Indirect Impact COVID-19 yang diadakan oleh LAPAN bekerja sama dengan MAPIN Jawa Barat secara online melalui ZOOM dan YouTube, Senin 18 Mei 2020.

Dikutip dari siaran pers LAPAN, hasil kajian mengenai variasi musim, jelas Erma, menunjukkan bahwa musim kemarau basah tahun 2020 (Mei-September) diprediksi terjadi di Jawa Barat bagian utara yang menjadi sentra produksi pertanian, seperti Bekasi, Karawang, Subang, Indramayu, Cirebon.

“Hasil prediksi menunjukkan daerah yang paling rentan adalah kawasan pesisir,” ujarnya.

Sementara itu, tambah Erma, Jawa Barat bagian tengah diprediksi mengalami fase kering pada dasarian II dan III Juni, dasarian I dan II Juli, dasarian II-III Agustus dan dasarian I September. Sehingga, musim kemarau di wilayah ini hanya terjadi sekitar empat dasarian atau empat puluh hari pada Juli-Agustus.

Erma menuturkan, pihaknya menjalankan model iklim regional bernama Conformal-Cubic Atmospheric Model (CCAM) dan merata-ratakan dengan teknik ensemble dari 10 member.

Hasilnya, prediksi probablistik menunjukkan bahwa peluang hujan turun dengan intensitas 100 mm/bln di wilayah Jawa Barat mencapai lebih besar dari 85%.

“Hal ini mengindikasikan peluang hujan relatif masih tinggi selama musim kemarau Juni-Agustus,” ujarnya.

Dia menambahkan, prediksi terjadinya kemarau basah tersebut dapat dimanfaatkan bagi para petani di Jawa Barat bagian utara untuk dapat memulai masa tanam padi pada akhir Juni (dasarian III), sedangkan untuk wilayah Jawa Barat bagian tengah dapat memulai musim tanam padi pada awal September (dasarian I) karena diprediksi surplus air maka petani bisa segera menanam padi.

Ia menuturkan, dalam hal ketahanan pangan selama pandemi, kondisi kemarau basah ini dapat dimanfaatkan untuk mengatur strategi pertanian agar stok pangan dapat terjaga bahkan surplus.

Di sisi lain, lanjutnya, kewaspadaan terhadap peluang terjadinya cuaca ekstrem berupa hujan deras dan banjir selama musim kemarau khususnya di wilayah pesisir utara Jawa Barat juga perlu dilakukan dengan berbagai upaya mitigasi untuk memproteksi sentra pertanian di wilayah tersebut dari gagal panen. (can/pr)

error: