MEMBLUDAK, MANUSIA KARUNG & PEMULUNG DI PURWAKARTA TAK TERKONTROL

Purwakarta – Maraknya pemulung musiman atau biasa dipanggil manusia gerobak atau manusia karung di Kabupaten Purwakarta menjadi perhatian khususnya di bulan puasa menjelang lebaran dan di saat pandemi Covid-19 seperti sekarang.

Berdasarkan pantauan reporter FAMZTV.com, hampir setiap sudut jalan di Purwakarta terdapat para pemulung. Ada yang hanya membawa karung sampai gerobak-pun dibawa, lengkap dengan anak dan istrinya.

Salah seorang pemulung bernama Asep (45) mengaku dirinya datang dari wilayah Cikampek, Kabupaten Karawang. Ia mengaku sudah lama mulung di Purwakarta.

“Dari Cikampek situ, ya nyari botol bekas lumayan bisa laku sampai Rp 30 ribu”, kata Asep saat ditemui reporter FAMZTV.com di Jalan Ciwangi-Sadang, Selasa sore (19/05/2020)

Selama puasa, Asep biasa keliling Purwakarta mulai dari jam 9 pagi sampai jam 10 malam. Terkadang ia juga pernah keliling saat waktu sahur. Pria paruh baya yang tinggal di Sukaseuri, Cikampek, Kabupaten Karawang ini juga mengakui kalau pemulung yang biasa muncul musiman di Purwakarta sebagian dari luar kota. Dan mayoritas pemulung dari luar kota adalah pemulung dadakan yang mengaku korban PHK akibat wabah Covid-19.

“Ya paling Karawang, Subang, tapi ada tetangga saya malah dari Tegal sama Indramayu juga ada. Kalau saya kan udah dari dulu mulung. Kalau yang dari luaran kota itu kebanyakan udah lama nganggur habis kena PHK gara-gara penyakit itu. Satu kompleks rumah saya saja ada 20 orang lebih dari luar kota yang jadi pemulung”, ujar Asep.

Sementara itu dikonfirmasi terpisah Kepala Dinas Sosial Purwakarta, Asep Surya mengungkapkan kalau fenomena ‘membludaknya’ pemulung di Purwakarta ini bukan hal yang luar biasa dan menurutnya pemulung itu merupakan suatu profesi.

“Pemulung itu kan profesi apalagi banyak masyarakat yang terkena dampak Covid-19. Mungkin karena tidak bekerja lagi di tempat biasa, jadi untuk menyambung hidup mereka setiap hari mencari kerja yang ada,” ujarnya di Purwakarta.

Namun, saat disinggung terkait banyaknya pemulung yang berasal dari luar daerah, Asep justru tidak berkomentar.

Sementara itu dalam sesi wawancara terpisah, Bupati Purwakarta, Anne Ratna Mustika justrut angkat bicara terkait pemulung atau manusia gerobak musiman yang semakin banyak di Purwakarta.

“Kabupaten Purwakarta, sejauh ini menjadi salah satu daerah di Jawa Barat sebagai tujuan kaum urban untuk menetap dan mencari peruntungan. Apalagi, di momen puasa sekarang dipastikan bakal terjadi peningkatan serbuan kaum urban yang kebanyakan dari luar Purwakarta tanpa berbekal kemampuan dan kesiapan apapun,” katanya, Senin (4/5/2020) lalu.

Sementara itu, Kasi Operasional dan Pengendalian Bidang Trantibum Satpol PP Purwakarta, Teguh Juarsa pun tak menampik adanya serbuan dari pemulung atau manusia gerobak.

Dia membenarkan memang momen Ramadan ini wilayahnya memang kerap didatangi kaum urban, misalnya pengamen, gelandang, dan pengemis dadakan, hingga manusia gerobak.

“Mereka ini kaum urban musiman lintas kabupaten. Jumlah mereka pun dipastikan bakal alami peningkatan sampai lebaran,” ujarnya.

Satpol PP Purwakarta, kata Teguh, telah memprediksi fenomena ini. Sejak jauh hari, Satpol PP Purwakarta pun telah menyiapkan langkah-langkah antisipasi, seperti mengintensifkan operasi dan menyiagakan petugas di sejumlah titik yang selama ini menjadi tempat mangkal mereka.

“Kami akan terus sisir lokasi yang jadi tempat mereka berkumpul, seperti sekitar lampu merah dan sejumlah titik keramaian lainnya,” ujarnya.

Adapun pola yang dilakukan para petugas Satpol PP ketika ada kaum urban yang terjaring operasi yakni memberikan mereka pembinaan. Tetapi, jika mereka (pengemis) yang terjaring dari luar Purwakarta, mereka pun akan langsung mengembalikan ke daerah asalnya.

“Jadi, keberadaan para pengemis hingga manusia gerobak ini perlu diwaspadai bersama sebagai bagian dari upaya penanggulangan dan pencegahan penyebaran wabah Covid-19,” ucap Teguh.

Berdasarkan pantauan reporter FAMZTV.com pada Selasa sore (19/05/2020) menjelang berbuka puasa, petugas Satpol PP Purwakarta rajin keliling ke tiap sudut jalan namun hanya sebatas patroli dan fokus pada penegakan aturan PSBB.

Disamping itu, dari hasil pengamatan reporter FAMZTV.com, tidak hanya beberapa pemulung yang memang benar-benar mencari nafkah melalui mencari rongsokan ini.

Tapi, justru mayoritas para pemulung ini hanya menjual empati dan memohon belas kasihan seperti menerima paket bungkusan beras, bingkisan makanan dan pakaian dari pengendara yang melintas.

(can)

error: