PENGAMAT : INSENTIF PAJAK MOBIL BARU 0% BISA HANCURKAN PASAR MOKAS

Famz Oto – Adanya wacana pemberian insentif pajak mobil baru hingga 0 persen yang digaungkan Kementrian Perindustrian menurut pengamat otomotif justru akan merugikan pedagang mobil bekas.

Pasalnya, penurunan harga akibat dihapusnya pajak kendaraan bermotor (PKB), membuat harga mobil baru mirip dengan harga mobil bekas.

Pengamat otomotif sekaligus akademisi dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu mengatakan, perlu dilihat perhitungan realisasi pemberian insentif yang akan disetujui pemerintah.

Martinus menjelaskan, jika pajak mobil baru nol persen hingga akhir tahun 2020 ini, secara hipotetis harga terpotong sekitar 10-25 persen.

Hal itu tergantung apakah PPN saja yang dihilangkan atau bahkan hingga PPnBM-nya. Tapi jika hanya turun 10 persen, ia mengatakan akan menganggu harga mobil bekas.

“Jika harga mobil baru dapat terpotong sekitar 10-25 persen, maka ia dapat menggerus pasar mobil bekas. Dampaknya, untuk dapat survive, maka harga jual mobil bekas akan semakin anjlok lagi,” papar Martinus seperti dilansir dari Antara.

Yannes menambahkan, bila insentif terealisasi, maka masyarakat semakin diyakinkan bahwa kendaraan bermotor bukan lagi menjadi barang yang layak untuk investasi, tetapi benar-benar barang konsumsi dengan tingkat penyusutan harga yang semakin besar saja.

Meski begitu, pengamat otomotif satu ini tidak menyakini ada masyarakat yang ingin berpindah kendaraan pribadi dengan harga murah di tengah pandemi Covid-19, yang akhirnya justru mengarah untuk membeli mobil bekas.

“Jika masih ada segelintir yang berpikiran untuk berpindah kepada kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum, tentunya mereka dengan keuangan yang lebih terbatas akan lebih memilih untuk membeli kendaraan bekas,” tambahnya.

Sementara pemberian insentif yang diharapkan dapat mendongkrak penjualan, Yannes mengatakan hal tersebut masih belum bisa diprediksi.

Pasalnya daya beli masyarakat kini yang menurun akibat pandemi Covid-19.”Apalagi Bank Indonesia sudah mematok prakiraan inflasi di 3,02 persen. Sebagai catatan, penjualan kendaraan bermotor baru bisa membaik jika pertumbuhan ekonomi berada di kisaran 5,7 persen,” pungkas Yannes.

(can/ant)

error: