PERTUMBUHAN EKONOMI JABAR TERGANTUNG TINGKAT KONSUMSI RUMAH TANGGA

Sejumlah calon pembeli melihat pakaian bekas impor di Pasar Senen, Jakarta, Minggu (1/2). Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak membeli pakaian bekas impor karena dari hasil uji laboratorium pada sampel pakaian bekas impor tersebut terdapat berbagai bakteri yang bisa membuat kulit gatal-gatal sampai terkena penyakit saluran kelamin. ANTARA FOTO/Rosa Panggabean/mes/15.

Bandung – Sektor keuangan di Jawa Barat, baik perbankan maupun nonperbankan, didorong untuk fokus mendorong konsumsi rumah tangga. Alasannya, dari sisi liabilities, leverage dari rumah tangga masih cukup besar.

Selain itu, peningkatan pada konsumsi rumah tangga diyakini akan mempertahankan pertumbuhan ekonomi Jabar agar tetap solid di tengah semakin nyatanya tekanan akibat perekonomian global. Di dalam perekonomian Jabar, kinerja konsumsi rumah tangga mengambil porsi sekitar 65%, sehingga peningkatan di segmen ini akan berpengaruh cukup besar terhadap pertumbuhan ekonomi Jabar.

Demikian terungkap saat Forum Stabilitas Keuangan Daerah Provinsi Jawa Barat dengan tema “Mengelola Risiko Keuangan di Tengah Ketidakpastian Global” di Bandung, Rabu, 2 Oktober 2019. Hadir sebagai pembicara adalah Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat Doni P. Joewono, Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1 Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ressita Nugrahaeni, dan Ekonom Bank Permata Josua Pardede.

Doni menjelaskan, ekonomi Jabar ke depan diperkirakan akan melambat sampai dengan akhir tahun 2019. Hal itu dikarenakan adanya potensi perlambatan investasi serta kinerja konstruksi. Kemudian faktor eksternal yang memengaruhi ekspor luar negeri dan kinerja industri pengolahan, serta musim kemarau yang memengaruhi kinerja pertanian.

Meski demikian, Doni mengungkapkan, dengan kondisi yang tengah berlangsung saat ini masih ada sisi optimisme untuk mendorong perekonomian Jabar, yakni masih kuatnya konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah yang diikuti kinerja perdagangan. Hal tersebut sering dengan peningkatan pendapatan masyarakat.

“Pada triwulan II-2019, kuatnya konsumsi mendorong pertumbuhan ekonomi Jabar,” katanya.

Hanya, kuatnya konsumsi rumah tangga Jabar tersebut dikarenakan meningkatnya pendapatan karena kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN), pencairan gaji ke-14, dan kenaikan bansos PKH dan BPNT. Hal itu tentunya menjadi sorotan karena jika yang menjadi penopang kenaikan adalah komponen tersebut maka kenaikan ekonomi Jabar tidak berkualitas.

Padahal, Doni mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi Jabar dapat lebih berkualitas apabila konsumsi rumah tangga didorong secara optimal, salah satunya melalui kredit konsumsi dari perbankan. Alasannya kemampuan rumah tangga Jabar masih kuat yang diantaranya tercermin dari cukup besarnya net aset yang dimiliki.

“Rumah tangga Jabar, net asset-nya besar. Artinya jika dikaitkan dengan daya beli, orang Jabar itu relatif kaya, karena masih memiliki kekayaan atau gaji cukup besar. Itu potensi bagi perbankan meningkatkan kreditnya rumah tangganya,” kata Doni.

Ia menambahkan, kredit rumah tangga pun masih terakselerasi yang didorong pertumbuhan kredit multiguna. Di sisi lain, risiko kredit bermasalah rumah tangga pun masih terkendali dikisaran 2,13%.

“Kalau konsumsi bisa naik dikit, growth ekonomi pun akan naik,” ujarnya.

Sementara itu, Josua mengatakan jika merujuk pada data yang ada pertumbuhan ekonomi Jabar masih tumbuh baik. Hanya, menurutnya yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana akses pembiayaan ke sektor non-korporasi bisa dioptimalkan, khususnya ke konsumsi rumah tangga. Apalagi konsumsi rumah yangga memiliki porsi yang cukup besar dalam perekomian Jabar.

“Dari sisi liabilitiesleverage-nya masih cukup besar. Artinya ruang bagi sektor keuangan untuk menyalurkan ke segmen konsumsi masih besar. Kemudian dari sisi non performing loan (NPL) juga masih cukup baik,” ujarnya.

Josua menyadari, sejak beberapa waktu terakhir kondisi global cukup menjadi konsen Bank Indonesia. Hal itu terlihat dari langkah BI yang cukup agresif menurunkan suku bunganya selama empat bulan. Langkah tersebut dalam rangka mengantisipasi dampak dari perlambatan ekonomi global yang bisa berdampak ke ekonomi domestik.

Sementara di Jabar, langkah KPW BI Jabar yang fokus mendorong segmen konsumsi rumah tangga pun tidak terlepas dari upaya antisipasi tersebut, terutama jika segmen korporasi terpengaruh. Pasalnya, ekspor dari manufaktur Jabar mayoritas ke pasar global, seperti Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), elektronik, dan otomotif.

“Agar pertumbuhan kredit ini tetap tumbuh solid di Jabar maka perlu untuk mencari sumber pembiayaan baru dan segmen konsumsi masih cukup potensial di Jabar,” katanya seperti dilansir pikiran-rakyat.

Ressita menambahkan merujuk pada kondisi yang ada peluang bagi perbankan untuk mendorong segmen konsumsi rumah tangga masih memungkinkan. Hanya, tetap perlu untuk melihat kemampuan dari perbankan itu sendiri.

“Jangan sampai memburuk jadi harus tetap menjaga itu. Tetapi kalau dari pertumbuhannya kita masih optimis,” ujarnya. (pr/fath)

error: