PREMIUM HADIR LAGI, JAWAB KERINDUAN KONSUMEN SEJATI

Purwakarta – Kini bahan bakar minyak jenis premium perlahan tapi pasti mulai menghiasi Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Purwakarta, Jawa Barat. Warga yang masih belum bisa ‘move on’ dari godaan murahnya harga jual premium, nampak antri untuk mengisi tangki kendaraannya dengan bahan bakar beroktan 88 tersebut.

Mobil dan motor tampak mengantre untuk mengisi BBM jenis premium di SPBU Bungursari, Purwakarta. (FAMZ Media/Foto:Deni)

Memang bukan sulap bukan sihir, premium hadir lagi ke pasaran berkat instruksi dari pemerintah yang akhirnya memutuskan memperbanyak pasokan BBM jenis premium di Jawa, Madura dan Bali (jamali). Langkah itu diambil untuk mengurangi kelangkaan premium yang banyak dirasakan masyarakat.

Padahal sebelumnya, pemerintah lewat Kementrian ESDM menginstruksikan PT. Pertamina (Persero) untuk menggeser perlahan posisi premium dengan bahan bakar minyak ramah lingkungan seperti Pertalite dan Pertamax dengan alasan menjaga kualitas dan keawetan mesin kendaraan karena beroktan 90 keatas. Namun nyatanya setelah BBM jenis premium hadir lagi, yang ada justru antrian para pengendara yang ingin mencekoki kendaraannya dengan premium nampak mengular.

“Kalau Pertalite sama Pertamax cuma selingan biar mesin enak. Tapi lebih pilih Premium soalnya murah dan dapat banyak”, ujar Kiki, seorang pengendara motor yang sedang mengisi bensin di SPBU Bungursari, Purwakarta, Jawa Barat, Senin (04/11) siang.

Kiki, pengendara motor saat diwawancarai tim liputan FamzTV.com (FAMZ Media/Foto:Salwa)

Kiki menambahkan, hadirnya premium ke pasaran menurutnya akan sangat membantu masyarakat dengan strata ekonomi sosial yang rendah.

Senada dengan Kiki, Attah yang juga sedang mengisi bensin di SPBU Bungursari mengatakan kalau mobilnya sudah biasa ‘menenggak’ premium dan menyambut gembira kembalinya premium.

“Seneng kalau ada (premium, red) soalnya kan murah meriah”, kata Attah.

Attah, pengemudi mobil saat diwawancarai tim liputan FamzTV.com setelah membeli premium. (FAMZ Media/Foto:Deni)

Meski minat masyarakat membeli premium begitu tinggi, Agus Ruhiyan, salah satu karyawan SPBU di Bungursari, Purwakarta menyebut kalau tempatnya bekerja biasa menerima supply premium sekitar 8 ton saja per dua hari. Jumlah tersebut tentu terbilang sedikit untuk konsumsi bahan bakar harian masyarakat. Dan benar saja, stok 8 ton premium tersebut bisa habis dalam sehari saja, itupun cuma butuh 16 jam sampai ludes terjual.

Plang bertuliskan ‘Maaf Premium Habis’ terpampang di jalur dispenser yang menjual BBM jenis Premium di SPBU Bungursari. (FAMZ Media/Foto:Deni)

“Per dua hari sekali kita nerima stok premium. Tapi ya gitu, banyak yang beli makanya cepet habis. Mayoritas yang beli premium itu ya motor, tukang ojek, angkot, malahan mobil pribadi juga sering ngisi premium”, ujar Ruhiyan.

Agus Ruhiyan, seorang karyawan SPBU Bungursari saat dikonfirmasi tim liputan FamzTV.com soal minat masyarakat untuk membeli premium. (FAMZ Media/Foto:Deni)

Tingginya konsumsi BBM di Indonesia, dibenarkan pengamat kebijakan publik Agus Pambagio. Agus bahkan sempat ‘bersuara’ supaya pemerintah segera menerbitkan kebijakan soal kendaraan ramah lingkungan yang tidak lagi membutuhkan bahan bakar fosil.

Menurut Agus, saat ini kebutuhan BBM di Indonesia sekitar 1,4 sampai 1,6 juta barel per hari. Produksi BBM lokal per 17 Juli 2018 menyentuh angka lebih dari 757 ribu barel per hari. Sementara impor BBM kata Agus, sekitar 800.000 barel per hari.

Agus Pambagio – Pengamat Kebijakan Publik. (FAMZ Media/Foto:Istimewa)

Menurutnya, kebutuhan BBM tahun 2030 bisa mencapai 2,2 juta barel per hari. Jika tidak menggunakan energi baru terbarukan untuk transportasi dan energi tanpa ada penemuan sumur baru dan kilang, maka diprediksi pada tahun 2030, Indonesia akan impor BBM sekitar 1,7 juta barel per hari dengan harga minyak mentah dunia rata-rata sekitar 70 USD per barel. Maka, diperlukan devisa sekitar Rp 1,67 Triliun per hari (dengan kurs 1 USD = Rp 14.000) untuk impor BBM. (can/ron)

error: