PUNCAK KEMARAU DI JABAR DIPREDIKSI TERJADI AGUSTUS 2019

Kuningan – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Barat dan BPBD kabupaten dan kota di Jawa Barat sepakat mengajukan rekomendasi kepada Gubernur Jabar untuk menetapkan wilayah Jawa Barat dalam status siaga darurat bencana kekeringan. Jangka waktu yang disepakati yaitu mulai 1 Agustus sampai 31 Oktober 2019.

Hal itu disepakati melalui Rapat Koordinasi Persiapan Menghadapi Siaga Darurat Bencana Kekeringan di Jawa Barat tahun 2019, antara BPBD Provinsi Jabar dengan BPBD kabupaten dan kota se-Jawa Barat yang digelar BPBD Provinsi Jabar di Hotel Horison Titra Sanita, Kabupaten Kuningan, Selasa, 16 Juli 2019.

“Hasil kesepakatan rakor ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada Gubernur Jawa Barat, untuk menetapkan wilayah Jabar dalam status tersebut mulai tanggal 1 Agustus sampai dengan 31 Oktober 2019, melalui surat keputusan Gubernur Jabar,” kata Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Provinsi Jawa Barat Didi Aji Sidik, seusai memimpin dan memberikan materi dalam rakor tersebut.

Dalam rakor tersebut juga dirilis informasi BMKG pada dasarian II bulan Juli 2019. Disebutkan, peluang curah hujan di bawah normal atau di bawah 50 mm akan terjadi di hampir 90 persen wilayah Jabar. Sampai tanggal 12 Juli 2019 tercatat sudah ada 12 kabupaten kota di Jabar melaporkan di daerahnya telah terjadi kekeringan.

Terkait hal itu, Kepala Stasiun Geofisika Bandung Tony Agus Wijaya kepada Pikiran Rakyat menyebutkan, puncak musim kemarau tahun 2019 di wilayah Jawa Barat diperkirakan akan terjadi di bulan Agustus.

“Jabar sekarang sedang berada di musim kemarau. Musim kemarau di wilayah Jawa Barat tahun ini secara umum mulai dari Mei sampai nanti Oktober. Dan, nanti akan mencapai puncaknya di bulan Agustus,” ujarnya

Di bulan Agustus, curah hujan di sebagian besar wilayah Jabar diperkirakan sangat sedikit.  Bahkan, di bebrapa tempat tidak ada hujan sama sekali.

“Kalaupun pada bulan Agustus di beberapa daerah ada hujan, hanya hujan ringan atu gerimis,” ujar Tony. (pikiran rakyat)

BMKG juga ingatkan dampak kekeringan bulan Agustus 2019

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati memprediksi puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada Agustus 2019. “Itu yang paling luas Agustus puncak musim kemaraunya,” kata Dwikorita di Kantor Presiden, Jakarta, Senin, 15 Juli 2019.

Musim kemarau ini sudah dimulai sejak Mei, namun tidak merata. Dampaknya berupa kekeringan di sejumlah wilayah, khususnya bagian selatan Indonesia, yang diprediksi berjalan hingga September. Misalnya Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Bali, NTB, NTT, dan Papua bagian Selatan.

Kekeringan, kata Dwikorita, terjadi lantaran saat musim kemarau akan mengalami defisit ketersediaan air di sepanjang Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, sampai Papua.

Memasuki Oktober, wilayah Indonesia bagian selatan akan mulai basah karena memasuki musim hujan. Sedangkan wilayah Indonesia di bagian utara akan mengalami kekeringan hingga Desember.

Selain kekeringan, BMKG juga mengingatkan potensi kebakaran hutan dan lahan gambut. Potensi dihitung berdasarkan kondisi atmosfer.

“Mumpung belum terjadi, Pak Presiden menginstruksikan TNI harus melakukan apa, KLHK apa, jadi ada task force.” Presiden meminta daerah ancaman dipetakan. “Mumpung semuanya belum terjadi baik yang potensi terbakar biar bisa dicegah atau yang kekeringan,” ujarnya. (tempo)

error: