RATUSAN POLISI PEMEGANG SENJATA API DI SUKABUMI DITES SUPAYA TIDAK ADA PENYALAHGUNAAN SENJATA

SUKABUMI – Mengantisipasi penyalahgunaan senjata api, sebanyak 328 personel Polres Sukabumi Kota mengikuti tes psikologi yang diselenggarakan Senin, 25 Maret 2019. Tes yang berlangsung di gedung serba guna Sekolah Menengah Atas Negeri 1,  Kecamatan Citamiang, Kota Sukabumi, diikuti hampir seluruh personel Mapolres Sukabumi Kota.

Personel kepolisian yang mengikuti tes adalah petugas yang dibekali senjata api ketika bekerja. Tes yang dilakukan oleh tim psikolog Polda Jawa Barat itu merupakan salah satu tolok ukur layak atau tidaknya seorang aparat kepolisian memegang perlengkapan dinas berupa senjata api.

Personel yang dibekali senjata api (senpi) berasal dari berbagai satuan. Di antaranya Satuan Reskrim, Satlantas, Satuan Narkoba, dan personel yang bertugas di setiap polsek. 

“Ini merupakan salah satu upaya untuk memastikan keamanan senpi dinas saat dipergunakan personel, terutama personel yang selama ini memegang senpi,”  kata Kepala Bagian Sumber Daya Manusia Polres Sukabumi Kota, Komisaris Polisi Budi Setiana.

Selain itu, kata Budi Setiana, tes itu bertujuan untuk meyakinkan bahwa senjata api dinas akan dipergunakan dalam kondisi  aman. “Artinya, ke depan tidak ada yang menyalahgunakan senjata. Maka tes ini sangat penting untuk diikuti seluruh personel pemegang senjata api,” katanya.

Budi Setiana pun mengatakan, selain harus menempuh tes psikolog, para pemegang senjata api harus memenuhi syarat utama. Syarat itu antara lain harus berpangkat Brigadir Kepala, lulus psikotes, dan personel bertugas di bagian operasional.

“Dan yang paling vital, tidak mengonsumsi narkoba atau minuman keras, disiplin, serta berperilaku baik dan absensinya baik,” katanya.

Pemeriksaan rutin

Mengutip Pikiran Rakyat, Kapolres Sukabumi Kota, Susatyo Purnomo Condro, mengatakan, pemeriksaan selalu rutin juga dilakukan provost Polresta terhadap personel bersenjata lengkap. Pemeriksaan dilakukan untuk mengantisipasi penyalahgunaan senpi oleh petugasnya.

Ia mengatakan, senjata api hanya boleh digunakan saat waktu tertentu atau terdesak saja. Senjata api itu pun hanya boleh digunakan saat menjalankan tugas penegakan hukum.

“Pemeriksaan (rutin) ini untuk mengetahui kondisi senjata api yang digunakan anggota, mulai dari kelayakan, kelengkapan, dan surat senjata api,” katanya. (skb/dn)

error: