SENSASI MELIBAS TOL LAYANG JAPEK

Laporan oleh : Ronny Agustiyar

Lima hari pasca diresmikan penggunaanya oleh Presiden Joko Widodo, saya mencoba untuk meng”Unboxing” Jalan Tol Elevated II atau biasa disebut Jalan Tol Layang Jakarta Cikampek.

Laporan langsung di Tol Layang Japek. (FAMZ Media/Foto:Ronny)

Bersama anak dan istri tercinta, dari Purwakarta Jawa Barat saya menggunakan SUV dan mengikuti arahan Google Maps, dari Karawang Barat untuk berbelok ke arah kiri dan masuk ke Tol Layang Jakarta-Cikampek, mengarah ke Jakarta.

Portal masuk Tol Layang Japek di Karawang. (FAMZ Media/Foto:Ronny)

Penasaran karena ingin merasakan sensasi hempasan angin serta kontur jalan tol yang ‘katanya’ bergelombang, membuat saya tanpa pikir panjang langsung masuk ke jalan tol layang tersebut.

Karena jalan layang ini hanya diperuntukkan untuk kendaraan kecil, maka pihak pengelola telah memasang plang pembatas ketinggian, kira-kira setinggi dua meteran.

Akan menjadi masalah, jika ada SUV yang masuk memiliki ketinggian kendaraan yang lebih dari dua meter. Misalnya SUV yang bodinya sudah bongsor itu, dimodifikasi dengan mengganti ban yang lingkarnya lebih besar dan ditambahi roof rack.

Saat baru beberapa meter dari plang masuk tersebut, hentakan pertama saya rasakan. Meski berjalan sesuai dengan batasan kecepatan yang ditentukan yakni minimal 60 km/jam dan maksimal 80 km/jam, namun mobil tetap merasakan ‘sensasi’ terhentak saat melintasi sambungan jalan.

Awalnya sih tidak begitu saya rasakan dampaknya. Namun menjelang kilo meter akhir menuju exit tol layang ini, perut mulai merasakan tidak nyaman.

Sambungan di Jalan Tol Layang Japek. (FAMZ Media/Foto:Ronny)

Kalau nggak mau dikatakan sakit akibat terlalu sering menerima hentakan tersebut. Saya sarankan bagi anda yang ingin melintas di Tol Layang Japek, sebelumnya untuk cek tekanan angin sesuai standar yang ditentukan pabrik kendaraan anda.

Jika tekanan angin kurang, saya khawatir akan mengakibatkan ban rusak. Soalnya di tol layang ini tidak ada rest area apalagi bengkel tambal ban hehehe.

Sementara kalo tekanannya terlalu berlebihan, maka dikhawatirkan ban meletus. Mengingat suhu di Tol Layang Japek jika siang hari sangat panas.

Lalu bagimana dengan angin yang konon sangat berbahaya terutama hempasan yang bisa saja datang sewaktu-waktu dari arah samping. Apalagi saat ini belum terpasang pemecah angin.

Baik saat di kilometer awal, pertengahan hingga menjelang keluar Tol Layang Japek, Alhamdulilah saya tidak merasakan hembusan kencang tersebut. Hanya saja memang saat saya buka jendela mobil, hembusan angin lumayan kuat masuk ke mobil.

Tes hembusan angin di Tol Layang Japek. (FAMZ Media/Foto:Ronny)

Satu lagi yang tidak kalah penting, pastikan BBM anda cukup untuk melibas rute sepanjang 36 KM ini, karena di atas tidak ada yang jualan bensin.

Mobil mogok di portal masuk Tol Layang Japek di Karawang. (FAMZ Media/Foto:Ronny)

Jalur yang lurus dan pemandangan yang bisa dikatakan monoton, juga bisa berdampak anda cepat lelah dan mengantuk. Untuk itu, jika kondisi tubuh anda tidak fit atau capek, jangan paksakan diri melewati tol layang.

Mendingan anda menggunakan jalur eksisting atau jalur bawah yang bisa langsung belok ke rest area jika terjadi sesuatu sewaktu-waktu.

Dan yang tidak kalah penting lagi adalah, berdoa kepada Tuhan Yang maha Esa agar anda dilindungi dan diberi keselamatan selama dalam perjalanan.

Dan akhirnya, setelah menempuh perjalanan sekitar hampir sejam, saya-pun keluar dari Tol Layang Jakarta Cikampek yang fenomenal ini, karena termasuk dalam jajaran manusia yang paling awal mencoba melewati jalan tol layang terpanjang di Indonesia. Semoga bermanfaat dan keep safety driving. (ron/fath)

error: